Rumah tangga... ada banyak hal yang mungkin belum bisa aku pahami tentang semua itu.
aku tidak pernah berfikir untuk terlibat dalam masalah rumah tangga seseorang yang kemudian harus turut serta melukai hati salah seorang teman.
Aku sendiri belum pernah merasakan seperti apa dan bagaimana kehidupan rumah tangga, namun beberapa curahan hati teman-teman membuatku berfikir bagaiama sulitnya membangun sebuah kehidupan rumah tangga. Manusia memang hanya bisa berencana dan berusaha, namun Tuhanlah yang menentukan.
Aku tidak meminta untuk bisa dipercaya, namun setidaknya aku percaya bahwa apa yang dilakukan oleh seseorang pasti dia memili alasan. Setiap orang berhak menilai dan berbicara atas apa yang mereka ketahui, namun ketahuilah bahwa tidak semua hal yang diketahui itu juga adalah sebuah kebenaran.
Mungkin aku sudah melakukan sebuah kesalahan dengan berbicara kepada orang lain atas apa yang aku ketahui, terlebih ketika ternyata ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan untuk hanya menyalahkan dan bahkan mencoba memberikan intimidasi terhadap seseorang.
Entahlah...masing-masing orang punya pendapat untuk apa yang mereka anggap benar. Bukan aku mencari pembenaran, tapi ini adalah langkah gegabah yang dilakukan oleh orang yang tidak tau apa-apa tentang kehidupan didalam rumah tangga, dan langkah seseorang yang tidak tahu dengan siapa ia berhadapan atau dengan siapa orang yang tepat bisa diajak bicara.
Semoga ini bisa menjadi pelajaraan, setidaknya untuk membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi haruslah tahu dengan siapa kita bicara, karena orang yang begitu dekat dengan kita justru bisa menjadi musuh yang berbahaya yang suatu saat bisa menerkam kita.
Tuhan...hari ini aku berdo'a dan memohon ampun untuk apa yang sudah aku lakukan, dan apa yang sudah aku ucapkan dengan khilaf dan kebodohan, mohon kuatkanlah dia yang saat ini sedang menerima ujian dan cobaan darimu, Aminn..
Keadaan hari ini begitu membuat tidak nyaman. Bagaimana hal ini bisa terjadi, mungkin karena mulut ini yang salah berucap. Aku hanya bisa menyesali apa sudah terjadi, meski itu adalah hal yang sia-sia karena ibarat nasi yang sudah adi bubur tidak mungkin akan kembali lagi menjadi nasi.
Meski ini semua sudah terlanjur, aku berharap padamu Tuhan untuk bisa memberikan kesempatan padaku bisa memperbaikinya jika aku memang harus mempertanggungawabkannya.